
Tebing Bamba Puang terletak di Sulawesi-selatan tepatnya di Dusun Kotu, Desa Bambapuang, Kec. Anggeraja, Kab. Enrekang atau sekitar 255 km dari kota makassar. Tebing bambapuang ini dapat diakses dengan mudah dari kota makassar dengan kendaraan bermotor. Pemandangan yang eksotis adalah daya terik yang mampu menghipnotis pengunjung karena tebing bambapuang berhadapan langsung Gunung Nona (Buntu Kabobong). Buntu Kabobong ini diistilakan dengan gunung sexy karena bentuknya mirip dengan kelamin perempuan. Masyarakat yang ramah dan santun adalah ciri khas daerah setempat. Hampir 100 persen masyarakat mata pencahariannya adalah bertani. Daerah ini juga dikenal dengan penghasil pepaya disulawesi-selatan dan juga Baje' kotu. Baje Kotu' adalah makanan khas enrekang yang terbuat dari beras ketan (rido pulu').

Tempat ini tentunya sangat menarik pengunjung utamanya wisatawan mancanegara. Namun hal ini sangat disayangkan karena pemda setempat belum terlalu membuka fikiran dalam pengembangan objek wisata utamanya wisata alam bebas.

Tebing Bambapuang merupakan tebing tertinggi diantara tebing-tebing yang berada di Sulawesi-selatan. Namun dari tingkat kesulitan tebing ini adalah akses untuk menuju kaki tebing, karena harus dilalui dengan medan yang scrambling dengan jalur yang agak sedikit sulit karena terdapat banyak bebatuan lepas. Kondisi tebing juga sangat rapuh karena hampir setiap musim kemarau terjadi kebakaran yang mengakibatkan permukaan tebing menjadi rapuh. Banyak pengguat alam bebas khususnya panjat tebing yang telah melakukan kegiatan disini. Namun ntak sedikit yang mengalami kegagalan namun banyak juga yang berhasil. Tahun 1989 adalah tahun yang Naas Bagi Mahasiswa Pencinta Alam Asal Jakarta (TRI SAKTI/ARYACALA), salah seoarang seinor yang jega merangkap fotogrfher (ALM. Ali Irfan) mengalamin kecelakan/ terjatuh saat akan menjemput pemanjat yang sebentar lagi akan sampai dipuncak tebing. Dari kecelakaan ini Ali Irfan meninggal dunia.

Tahun 2002 kecelakaan kembali terjadi pada Mapala UNAS Jakarta, kecelakaan yang dialami adalah kebakaran yang membuat 3 orang pemanjat terpanggang diketinggian 130 meter. Beruntung NYawa ketiganya dapat diselamatkan namun salah seorang dari mereka mengalami luka bakar yang cukup parah. Tahun 2004 kecelakan juga dialami oleh tim XPDC Panjat Tebing asal Universitas Veteran Jakarta ( GIRGAHANA UPN JAKARTA), dimana salah seorang pemanjatnya saat itu terjatuh dan mengalami patah tulang yang cukup parah. Dari rentetan kejadian diatas ada pelajaran penting bagi penggiat panjat tebing untuk tetap berhati-hati dalam melakukan kegiatan utamanya ditempat ini. Namu dari berbagai kejadian tersebut jangan menjadikan para petualang untuk tetap menjadikan tebing Bambapuang sebagai idola.
Ketinggian tebing barada pada ketinggian (sejati) 1021 mdpl dan tinggi nisbi 170 meter. Keberadaan Tebing Bambapuang juga tidak terlepas dari cerita mitos yang diselama ini diyakini oleh masyarakat khususnya di daerah setempat. Cerita/mitos yang berkembang dimasyarakat, konon Tebing bambapuang adalah tebing yang menjulang tinggi sampai kelangit dan merupakan tempat para raja-raja dulu untuk menyimpan harta dan sebagai tangga menuju langit untuk bertemu dengan Tuhan. BambaPuang dalam Bahasa Duri (Enrekang) adalah Tangga Raja, Bamba yang berarti Tangga dan Puang berarti Raja. Didaerah tebing Bambapuang juga terdapat kerajaan tua yang diyakini adalah kerajaan pertama yang berada di Sulawesi-selatan. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Rura. Singkat cerita ; pada suatu saat Tuhan (Puang Matua) murka kepada masyarakat yang ada didaerah tersebut sehingga Tebing Bambapuang pun diruntuhkan. Dapat kita lihat mulai dari bambapuang berjejeran tebing-tebing sampai ke Tanah Toraja. By. Lukman.
Tempat ini tentunya sangat menarik pengunjung utamanya wisatawan mancanegara. Namun hal ini sangat disayangkan karena pemda setempat belum terlalu membuka fikiran dalam pengembangan objek wisata utamanya wisata alam bebas.
Tebing Bambapuang merupakan tebing tertinggi diantara tebing-tebing yang berada di Sulawesi-selatan. Namun dari tingkat kesulitan tebing ini adalah akses untuk menuju kaki tebing, karena harus dilalui dengan medan yang scrambling dengan jalur yang agak sedikit sulit karena terdapat banyak bebatuan lepas. Kondisi tebing juga sangat rapuh karena hampir setiap musim kemarau terjadi kebakaran yang mengakibatkan permukaan tebing menjadi rapuh. Banyak pengguat alam bebas khususnya panjat tebing yang telah melakukan kegiatan disini. Namun ntak sedikit yang mengalami kegagalan namun banyak juga yang berhasil. Tahun 1989 adalah tahun yang Naas Bagi Mahasiswa Pencinta Alam Asal Jakarta (TRI SAKTI/ARYACALA), salah seoarang seinor yang jega merangkap fotogrfher (ALM. Ali Irfan) mengalamin kecelakan/ terjatuh saat akan menjemput pemanjat yang sebentar lagi akan sampai dipuncak tebing. Dari kecelakaan ini Ali Irfan meninggal dunia.
Tahun 2002 kecelakaan kembali terjadi pada Mapala UNAS Jakarta, kecelakaan yang dialami adalah kebakaran yang membuat 3 orang pemanjat terpanggang diketinggian 130 meter. Beruntung NYawa ketiganya dapat diselamatkan namun salah seorang dari mereka mengalami luka bakar yang cukup parah. Tahun 2004 kecelakan juga dialami oleh tim XPDC Panjat Tebing asal Universitas Veteran Jakarta ( GIRGAHANA UPN JAKARTA), dimana salah seorang pemanjatnya saat itu terjatuh dan mengalami patah tulang yang cukup parah. Dari rentetan kejadian diatas ada pelajaran penting bagi penggiat panjat tebing untuk tetap berhati-hati dalam melakukan kegiatan utamanya ditempat ini. Namu dari berbagai kejadian tersebut jangan menjadikan para petualang untuk tetap menjadikan tebing Bambapuang sebagai idola.
Ketinggian tebing barada pada ketinggian (sejati) 1021 mdpl dan tinggi nisbi 170 meter. Keberadaan Tebing Bambapuang juga tidak terlepas dari cerita mitos yang diselama ini diyakini oleh masyarakat khususnya di daerah setempat. Cerita/mitos yang berkembang dimasyarakat, konon Tebing bambapuang adalah tebing yang menjulang tinggi sampai kelangit dan merupakan tempat para raja-raja dulu untuk menyimpan harta dan sebagai tangga menuju langit untuk bertemu dengan Tuhan. BambaPuang dalam Bahasa Duri (Enrekang) adalah Tangga Raja, Bamba yang berarti Tangga dan Puang berarti Raja. Didaerah tebing Bambapuang juga terdapat kerajaan tua yang diyakini adalah kerajaan pertama yang berada di Sulawesi-selatan. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Rura. Singkat cerita ; pada suatu saat Tuhan (Puang Matua) murka kepada masyarakat yang ada didaerah tersebut sehingga Tebing Bambapuang pun diruntuhkan. Dapat kita lihat mulai dari bambapuang berjejeran tebing-tebing sampai ke Tanah Toraja. By. Lukman.
Ya, mengingat kejadian itu membuat bulu kuyduk saya merinding. Namun saya bersyukur, masih bisa diberikan nikmat oleh Allah SWT untuk menikmati kehidupan di dunia ini.
BalasHapusSaya ucapkan banyak2 terima kasih kpd MApala di Sulsel, warga Desa Kotu, dan segenap pihak yang membantu evakuasi kami, semoga Allah memberikan keberkahan untuk kalian.
Untuk tim pemanjat Bambapuang Himpala Unas '02 (Panji Maulana, Ani Puspita, Husni Arifin), semoga Allah selalu bersama kalian. Salam...(Salah satu tim pemanjat bambapuang Himpala Unas '02: Dadan)
Dijadikan pengalaman hidup Bro,,,
BalasHapus